Sejak punya gigi, Ghifari (my second boy) punya kebiasaan ini, dulu sih aku cuek cuek aja, lalu berlanjut dengan keherananku krn susunan dan bentuk gigi Ghifari yang kurang rata dan ga bagus. Dulu masih berprasangka itu disebabkan karena Ghi suka makan yang manis2 dan dia malas gosok gigi, tapi lama2 setelah kebiasaan makan manis dikurangi dan gosok gigi sudah teratur, akuperhatikan yang lebih dominan menjadi penyebabnya adalah gigi gemeretuk nya itu. Sebetulnya ga tiap malam sih, cuma sepertinya bila kondisi tubuhnya sedang lelah atau tidak fit, maka kebiasaan menggemeretukkan gigi nya itu semakin menjadi, dan hampir tak ada jeda , gigi gigi itu beradu dan benar2 bikin ngeri diriku yang mendengarnya, rasanya takut itu gigi pada rontok aja.
Sampailah malam ini Ghi terus2an bergemeretuk, berkali kali pula aku berusaha membangunkan atau membuatnya sadar akan gemeretuknya , tetap tidak berpengaruh, krn dia akan kembali menggemeretukan gigi2nya... Lama kelamaan rasa terganggu itu menjadi rasa penasaran dan aku mulai browsing untuk tau dengan jelas mengenai hal ini.
Ternyata penyakit (bukan penyakit sih sebeltulnya) atau kebiasaan ini memang banyak menghinggapi manusia, tapi sebetulnya kebanyakan perempuan, dan jarang terjadi pada anak2. Pemicu utama juga sebetulnya adalah stress, nah emang nya Ghi stress apa yak, masa akibat stress sih...
Untuk lebih jelasnya , aku copas artikel dibawah ini, mudah2an bisa jadi ilmu juga bagi yang membutuhkan...
Setelah aku paham, aku mau bertindak apa yaa untuk Ghi ini, krn jelas harus dihentikan kebiasaan ini, krn akan merusak gigi dan kesehatannya. Sementara sih aku goyang2 kan mulutnya supaya brenti bergemeretuk, walau ga efektif juga, krn dia akan tetap kembali berbunyi... hmm cara apa lagi yaaa ???
============================================
Definisi : Bruxism adalah kebiasaan buruk berupa menggesek-gesek gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah, bisa timbul pada masa anak-anak maupun dewasa.
Biasanya tindakan ini dilakukan pada saat tidur di malam hari dan penderita tidak menyadari bahwa ia memiliki kebiasaan buruk tersebut.
Bruxism lebih sering dimiliki oleh kaum wanita dibandingkan pria.
Penyebab
Pada anak-anak, kadang kebiasaan ini timbul pada masa gigi-geligi sedang tumbuh.
Pada orang-orang dewasa biasanya bruxism timbul karena adanya maloklusi (hubungan yang tidak baik antara gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah), stres, rasa marah, rasa sakit, atau frustasi.
Akibat
Bruxism dapat menyebabkan abrasi (aus) permukaan gigi-gigi pada rahang atas dan rahang bawah, baik itu gigi susu maupun gigi permanen. Lapisan email (lapisan terluar dari gigi) yang melindungi permukaan atas gigi hilang, sehingga dapat timbul rasa ngilu pada gigi-gigi tersebut.
Bila kebiasaan ini berlanjut terus dan berlangsung dalam waktu lama, dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan periodontal (jaringan penyangga gigi), maloklusi, patahnya gigi akibat tekanan yang berlebihan, dan kelainan pada sendi Temporo Mandibular Joint (sendi yang menghubungkan rahang bawah dan tulang kepala).
Gejala
Pada saat tidur di malam hari, biasanya penderita akan mengeluarkan suara gigi-gigi yang beradu. Bila dilihat secara klinis, tampak adanya abrasi pada permukaan atas gigi-geligi rahang atas dan rahang bawah. Bila lapisan email yang hilang cukup banyak dapat timbul rasa ngilu pada gigi-gigi yang mengalami abrasi. Kadang terlihat adanya jejak atau tanda yang tidak rata pada tepi lidah.
Perawatan
Biasanya kasus-kasus bruxism terlambat didiagnosa karena penderita tidak menyadari bahwa mereka memiliki kebiasaan tersebut.
Untuk perawatan kasus ini dokter gigi akan membuatkan alat tertentu yang didesain dan dibuat khusus sesuai dengan susunan gigi-geligi pasien, alat ini disebut night-guard dan digunakan saat tidur pada malam hari.
Alat ini akan membentuk batas antara gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah sehingga tidak akan saling beradu. Pemakaian alat ini akan mencegah kerusakan yang lebih jauh pada gigi-geligi dan membantu pasien dalam menghentikan kebiasaan buruknya.
Bila penyebab utama dari bruxism adalah stres, maka melakukan konsultasi dengan psikolog merupakan salah satu hal yang dapat membantu dalam menghilangkan kebiasaan buruk ini.
Sumber: http://www.klikdokter.com
edited : 20/03./2024
No comments:
Post a Comment